Advertising, Branding, Graphic Design, Inspiration
Sign System at Muscat – Oman, Dubai – Abu Dhabi (Uni Arab Emirates)

image acuan ukuran 2 DUBAI

(Destination Branding, tulisan ke 2 dari 2 tulisan. Habis)

Yuuk sobat keren, kita lanjut ya ngobrolnya. Kopi or tehnya masih kan? Oke… udah dua hari jangan diminum. Bikin lagi aja hehehehe.

Siap?

Naah… ketika perjalanan menuju Muscat, sempet transit ke Dubai dan beberapa saat memperhatikan sign system dan papan penunjuk arah di bandara. Clear & clean… tidak ada yang keliru. Tidak ada pemaksaan font, sehingga tampil gepeng karena kebanyakan teks tapi spacenya gak cukup. Lega rasanya. Di bandara sekaliber internasional maka desain yang disuguhkan pun berkualitas dengan eksekusi yang berkualitas juga. Setidaknya lega sampai detik itu tidak ada human error ketika mengeksekusi desain yang ciamik itu.

Tiga jam transit, dan waktu berlalu. Kami bertiga pun melanjutkan perjalanan ke Muscat yang hanya menempuh 1 jam lamanya. Cerita lanjutannya ada di tulisan saya sebelumnya. Biar kayak film holywood, alurnya bolak balik hehehehe.

Teruuus. Setelah beberapa hari di Muscat, kita coba perjalanan darat menuju Dubai. By bus. Enam jam perjalanannya, plus 30 sampai dengan 45 menit untuk pemeriksaan ke Imigrasian. Wiiiih seruuu. Apalagi saat menjelang melewati perbatasan. Pemeriksaan tas, barang bawaan dan obat-obatan. Pertanyaan mereka standart setiap kali ketemu dengan penumpang. Membawa obat-obatan pak? Mungkin karena rasia narkoba kali ya. Okeee. Anjing pelacakpun di turunkan untuk memeriksa semua tas. Termasuk juga mengosongkan bagasi bus, Anjingpun masuk bagasi yang luas itu. Mengendus-endus entah apa yang dicari. Seperti di film-film, dengan background musiknya (di alam fantasi saya), muncul suasana yang menegangkan. Sayang, gak bisa ambil gambarnya ya. Karena polisinya galak-galak hehehehe.

Ok kembali ke topik utama, selama perjalanan sayapun memperhatikan sign yang ada dijalanan. Sesampainya di Dubai teteeeep… saya foto-foto sign yang terpampang. Saya perhatikan satu-satu, semakin menguatkan saya kalau untuk menampilkan konsep desain dibutuhkan kekuatan expert yang diberikan keleluasaan mutlak di estetika. Info dasar sebuah kota serta konsep flow pengunjung mungkin adalah hasil brainstorming dari berbagai pihak. Namun untuk wilayah estetika desain, saya melihat ada sebuah kemerdekaan bagi konsultannya  untuk menuangkannya. Termasuk diberikan wewenang melakukan supervisi yang apik sehingga eksekusinya sangat rapi dan cukup ciamik.

Ada di sebuah kawasan di pojokan Dubai yang bernama Al Rigga. Tampak di sudut jalan tempat orang banyak lalu lalang disitu karena dekat dengan foodcourt serta terminal bus menuju Dubai Mall dan tempat wisata lainnya. Sebuah papan denah kawasan yang berisi penjelasan tempat strategis serta titik dimana kita sedang berpijak. Dieksekusi cukup bagus, rapid an terlihat awet bahan yang digunakan. Sejenak langsung pikiran ini melanglang buana ke tanah air. Potensi kawasannya bagus, tetapi sign information nya di print di kain flexi yang permeternya dua belas ribu trus di span di triplek murahan yang dua bulan aja melengkung kena panas dan hujan. Ya Allah ampunilah kami.

Dua hari berlalu, dihari keduanya menuju Ferrari World Abu Dhabi. Dengan waktu tempuh sejam saja dengan taxi. Begitu masuk kawasan Ferrari World, sekali lagi environment nya dua kata clear & clean. Elegan, tidak ada yang error. Semua dipikirkan masak-masak. Menurut saya ini hasil koordinasi yang bagus antara arsitek, dinas tata kota, pembangunan jalannya, kelistrikannya, dan lain-lain. Flow pengunjung juga bagus. Sign yang terpasang sangat rapi dan desainnya pun informatif.

Oke saatnya tiba. Dubai dengan segala reputasinya. Dubai dengan ribuan ceritanya. Baik positif maupun negatifnya. Dubai dengan Burj Khalifanya. Dubai dengan tata kotanya yang ciamik. Persis seperti mimpi para raja Saudi yang menjadi kenyataan. Menjadikan padang pasir sebuah kota yang indah penuh rekayasa.

Yes. Hari ke tiga. Kita pun kembali ke Muscat. Sesampainya di Muscat, melakukan meeting sekali lagi dengan komunitas warga Indonesia di rumah mas Ikhsan, pria ganteng asal Medan yang sudah 10 tahunan kerja di Oman. Eh… kok meeting ya. Mungkin lebih ke kumpul-kumpul sambil makan empek-empek bikinan istrinya mas Ikhsan yang uenak banget. Sekalian pamitan untuk melakukan perjalanan hari berikutnya. Muscat – Dubai, Dubai – Jakarta.

Siang itu jam 14.00 waktu setempat kitapun meluncur menuju Muscat International Airport. Untuk yang terakhir sebelum berangkat, saya sempatkan capture beberapa sign system maupun shop sign beberapa brand. Keren-keren ya semuanya pake teknis neon box. Untuk Shop sign kita bahas kapan-kapan ya.

Kurang lebih 1,5 jam perjalanan kita mendarat di Dubai untuk transit. Perlu diketahui, transitnya di Dubai ini nggak main-main. 11 jam lamanya. Wedew… lama bingitz itupun nggak boleh keluar bandara. Akhirnya kita bertiga berburu kursi lurus biar bisa tiduran. Naaah karena waktunya cukup lama maka saya manfaatkan untuk keliling ngliat desain sign yang bertebaran. Penasaran rasanya pengen sekali nemuin neon sign papan penunjuk arah yang space-nya kecil, trus dipaksa berisi teks banyak, trus di konden font nya hehehehe… jahat ya. Sejam, dua jam belum nemu juga… saya keliling teruuus nggak peduli capeknya lagi tingkat dewa.

Hmmm tiba-tiba nemu yang aneh. Disebelah escalator ada neon sign kira-kira ukuran lebar 75 tinggi 200 cm. Tertera disitu US Pre-Clearence Flights di atasnya teks bahasa arab. Ter kondeeeen… huahahahaha (saya tertawa dalam hati) ada juga ya yang saya cari. Kirain cuma di Indonesia aja yang beginian. Dibawahnya juga “Etihad Business Lounge” beserta teks arabnya kesemuanya terkonden gepeng. Yang tampil normal adalah yang paling bawah “Smoking Area”. Ini jelas alasan utama pasti karena space yang tidak cukup. Atau koordinasi ukuran yang miskom. Antara desainer dan vendor eksekutor di lapangan.

Karena menurut hemat saya, apabila space tidak mencukupi teks tidak perlu di paksa untuk ditarik. Karena justru dengan font yang gepeng itu, tingkat keterbacaannya melemah. Coba deh perhatiin. Font yang normal akan lebih terbaca dari kejauhan karena sanga pencipta font sudah mempertimbangkan banyak hal sehingga bentuknya seperti itu. Apalagi jenis sanserif (font tidak berkaki) yang diciptakan untuk teks-teks pendek informatif.

Sebetulnya Desain sudah sangat oke lho. Integrated dengan arsitektur bandara. Sangat berkarakter timur tengah tapi modern, dengan font “Myriad” pilihan elegan yang mencoba keluar dari dominasi “arial” untuk sebuah papan penunjuk. Tapi yaaa itu tadi. Jadi kurang sempurna ketika tidak tampil normal. Sayang ya!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>