Branding, Inspiration, reflection
Brandingnya Seorang Muslim

Screen Shot 2017-04-26 at 6.33.50 AM 1

Ada pertanyaan terlontar dari salah seorang peserta seminar yang saking lamanya saya lupa siapa namanya. Tapi saya masih ingat pertanyaannya apa. Dan seingat saya, saya kurang puas terhadap apa yang saya sampaikan saat itu. Dalam kesempatan ini saya ingin menyampaikan tentu dengan informasi yang lebih baik dibandingkan dengan waktu itu. Apa sih pertanyaannya?

Apabila brand itu bukan melulu hal-hal yang sifatnya fisik/ tangible, tetapi lebih pada intangible atau attitude, bagaimana seorang muslim melakukan branding terhadap dirinya? (Personal Branding)

Menurut saya seorang muslim mesti melakukan branding di dua sisi. Sisi yang pertama adalah branding dengan target kepada sang Pencipta, Allah SWT. Kedua, branding kepada sesama manusia. Mengapa? Sabar… saya akan jelaskan satu-satu. Maka jangan kemana-mana. Enak lagi sambil baca uraian saya ini sambil minum teh panas atau kopi. Silahkan… hehehehe.

Sebelum kita bahas dua hal diatas terlebih dahulu kita sepakati. Apa sih Personal Branding. Apa bedanya dengan branding sebuah produk.
Naaah ada benang merah antara personal & product brand. Semuanya mengarah pada satu kata, yaitu “reputasi”. Maka aktivitas branding berarti “membangun reputasi”. Nilai brand akan meningkat seiring dengan reputasi yang berkembang. Bicara reputasi tentu saja tidak identik dengan peningkatan omzet, jumlah, market share, dan sejenisnya. Atau… dengan bahasa lain tidak identik dengan angka-angka. Oke ya… yang membedakan personal & product tentu pada subjeknya. Yang satu benda mati, yang satu berwujud manusia. Jelas Kan?

Oke kita lanjutkan… bicara Personal Branding berarti berbicara brandingnya manusia. Manusia harus memiliki reputasi tertentu sehingga orang lain mau untuk menerima. Entah sebagai individu biasa yang melakukan aktifitas sosial tertentu, ataupun seseorang yang memiliki kemampuan atau kekuasaan untuk memimpin. Contoh paling keren disini adalah sosok manusia “maksum” siapa lagi kalau bukan Rosulullah Muhammad SAW yang memiliki karakter Shiddiq, amanah, tabligh, fathonah. Saya tidak akan jelaskan panjang lebar karena tentu pembaca sudah sangat mengerti mengenai ini. Satu saja yang sampai sekarang membuat decak kagum sejarah. Ketika terjadi gencatan senjata atau istirahat perang kala itu antara kafir Quraish dengan pasukan Rosulullah. Ada tetangga Quraish yang notabene musuh pasukan muslim menitipkan senjata kepada Rosulullah. Senjata yang digunakannya untuk memerangi pasukan muslim dititipkannya kepada Rosulullah. Mengapa? Inilah… karakter Amanah yang telah terjaga reputasinya sejak kecil. Muhammad sebagai pemegang reputasi Amanah itu benar-benar mampu dijaganya sampai dewasa. Sekali lagi sungguh mengherankan. Seorang kafir Quraish mempercayakan senjata kepada musuhnya yaitu Rosulullah Muhammad SAW. Private branding “amanah” yang sangat sempurna.

Sekarang yang kedua… Branding nya seorang muslim adalah kepada sang Pencipta, Allah SWT. Mengapa? Karena kita ciptaanNya. Tunduk patuh terhadap sang Pencipta adalah konsekuensi logis dari hambanya agar Ridlo dan keberkahan hidup senantiasa menyelimuti kita. Apalah arti hidup ini kalau Allah tidak ridlo. Bagaimana agar Allah ridlo? Tentu kita menjalankan seluruh perintahNya dan menjauhi larangannya. Taqwa adalah satu kata yang mudah diucapkan namun berat untuk dijalankan. Menjadikan Islam sebagai paket lengkap pelaksanaan kehidupan tentu tidak memisahkan antara Agama (ritual) dengan kehidupan. Islam itu lengkap. Tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah (Aqidah & Ibadah), hubungan manusia dengan dirinya (bagaimana makan, minum, pakaian dan ber akhlaq) namun juga mengatur urusan manusia dengan manusia lainnya. Kalau masuk kamar mandi saja Islam mengatur dan ada doanya. Masak sih… masalah Ekonomi & Politik tidak diatur. Di sebuah negeri antah berantah ada pemimpinnya yang berkata “Jangan mencampurkan antara Agama dan politik. Jangan memasukkan ranah agama dalam pemerintahan”. Maka sama saja dengan mengatakan… Agama hanya urusan privat, ibadah ritual saja. Jangan menggunakan Islam dalam pengaturan pemerintahan. Dengan kata lain menggunakan sebagian dari Al Qur’an dan membuang lainnya yang dirasa tidak cocok.

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud membedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebagian dan kami kafir terhadap sebagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.” (QS. an-Nisa: 150-151)

Maka agar reputasi didepan manusia baik dan dihadapan Allah juga baik, seorang muslim mesti taat syariat dan mampu untuk memperjuangkannya. Apalah arti hidup ini bagi seorang muslim selain kembali kepada Sang Pencipta kelak, dengan raport bagus dan amal sholih yang diterima.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>