Branding, Graphic Design
Branding itu Berbenah

9

Hari Sabtu lalu tepatnya 11 Maret 2017 saya pulang dari Jakarta menuju Jogja dengan moda transportasi kereta api (KA). Lama sekali saya tidak menggunakan KA dalam perjalanan pulang dari Jakarta. Mungkin terakhir sekitar 4 tahun lalu ya… lupa saya. Kala itu saya sering mengeluhkan tampilan visual yang terpampang di lingkungan stasiun. Baik di stasiun Gambir Jakarta maupun di stasiun Tugu Jogja. Khususnya pada tampilan sign system nya. Tidak satupun integrated baik dalam penggunaan iconic visualnya maupun tipografinya. Semua disajikan beda-beda. Bahkan warnanya pun belang belonteng. Tidak sesuai dengan corporate color PT. KAI. Fasilitas lainnya juga belum terlalu oke. Foodcourt juga minimalis. Tapi lumayan, terakhir ke Gambir sudah tidak ada pungutan ketika ke Toilet umum. Sudah mulai bersih dan ada petugas kebersihan yang standby. Tapi beberapa kran rusak, kadang sampah masih berceceran dan mengeluarkan bau yang tidak sedap. Ini tentu tidak hanya kesalahan fasilitasnya ya… karena kesadaran pengguna atau calon penumpang juga perlu. Namun adanya tempat yang bersih disertai fasilitas tempat sampah yang baik menurut saya juga akan memancing penumpang dan calon penumpang untuk lebih tertib dan menjaga kebersihan.

Oke ya… itu dulu. Sekarang?. Semua telah berubah. Saya surprise dengan pembenahan yang dilakukan PT. KAI. Mulai dari system ticketing boarding yang memudahkan. Cukup dengan pembelian secara online atau di swalayan yang ditunjuk PT. KAI, tidak perlu antre belinya dan print boarding pass yang tidak perlu antre juga karena anjungan print mandiri menurut saya sangat cukup untuk calon penumpang hari itu. Boarding pass di print di kertas tipis sehingga menghemat biaya operasional, kita pun mudah membawanya.

Sepertinya system ini meniru bandara ya. Walau di kereta lebih simple lagi karena tidak ada antre bagasi. Kan dibawa sendiri barangnya. Trus ketika kita udah dapet boardingnya, kita bisa masuk ke ruang tunggu dengan sekali periksa KTP. Di kereta kita sudah tidak diperiksa lagi. Sangat simple dan memudahkan. Jadi sewaktu-waktu kita sudah duduk dan mengantuk serta tertidur, kita tidak khawatir untuk dibangunkan karena diperiksa tiketnya.

Trus yang paling signifikan perubahannya adalah kebersihan khususnya di toilet. Ada petugas yang selalu njagain biar wastafel tetep kering. Setiap kali ada yang pakai, setelahnya langsung di lap. Demikian juga toiletnya. Petugas selalu berusaha toilet untuk tetep kering… tidak dibiarkan sekalipun air menggenang & membasahi lantai. Dan ketika di Stasiun Gambir, ada touchscreen penilaian petugas. Cukup sentuh pilihan berikut; sangat memuaskan, memuaskan, kurang memuaskan, buruk. Ini fair dan bagus bagi kemajuan. Hebat! Salut PT. KAI.

Terakhir yang akan saya bahas disini adalah mengenai sign system. Hal paling sensitif (bukan karena saya desainer grafis ya….) ketika memasuki kawasan tempat umum adalah bagaimana memvisualkan tanda dengan iconic khusus sehingga informasi mudah terbaca dan dipahami oleh pengunjung. Tidak hanya itu… memiliki nilai estetis yang cukup baik adalah keharusan. Menggali karakter  lingkungan dimana sign system itu tercipta. Menggali hal-hal yang perlu di abadikan melalui iconic visual yang membumi, keren dan informatif. Perhatikan sign system kawasan kota di negara maju. Kita akan dapati sistem tanda yang baik, jelas dan informatif. Walau agak miskin ciri khas karena mereka tidak memiliki budaya yang spesifik. Sehingga kerennya bersifat umum dan universal. Beda dengan Indonesia. Berbicara batik atau ornament saja, ada 700 an suku dari Sabang sampai Merauke yang masing-masing bisa kita gali untuk menghasilkan karakter icon yang kuat dan khas.

mushola

Oke kembali ke topik pembahasan kita. Dahulu setiap kali saya naik kereta api saya selalu geregetan ngelihat aplikasi logo ke berbagai media yang terpampang secara visual di lingkungan stasiun. Saya kadang sedih menahan air mata (ciyeee….) ketika tampilan sign system dengan font yang tidak integrated, warna yang tidak sesuai corporate color dan bentuk-bentuk karakter visual yang ajaib, bikin mata pedas dan perut mual. Dalam hati saya bergumam… kasihan si pembuat logonya (ini bukan karena saya kakak kelasnya yang bikin yaaak, dek Farid Stevy). Hadiah 200 juta karena menjuarai kompetisi logo paling bergengsi tentu tidak membuat “dia” puas pa

stinya. Karena desain aplikasi yang sudah dibuatnya di acak-acak. Hmmm… mari istghfar berjamaah.

Itu dulu… sekarang su

dah beda. Ada secercah kegembiraan dari wajah saya ketika setelah sekian lama tidak menginjakkan stasiun. Faktor psikis kali ya… emoh naik keretanya kelamaan. Dari berbagai sudut pandang, kita telah dapati shop sign dengan iconic sign system yang keren, informatif, mudah terbaca teksnya karena font tidak dibiarkan rapat seperti default yang ada di komputer. Semuanya dibenahi. Diganti. Ada perubahan yang terjadi dan perubahannya cukup signifikan. Selain sign system yang tertempel diatas, yaitu penunjuk arah dan informasi ruangan. Juga di pemandangan bagian bawah juga telah tertata rapi. Ada tempat duduk yang didekatnya disediakan tempat charger handphone. Sehingga sambil menunggu jam berangkat tiba bisa istirahat sambil menambah daya batere HP kita. Disertai papan info yang cukup untuk menjelaskan bagaimana menggunakannya dan informasi-informasi lainnya. Cukup rapi dan terintegrasi. Warnanyapun sesuai dengan corporate color PT. KAI. Menyesuaikan warna logonya, orange dan biru tua. Keren!

Lega rasanya melihat per

ubahan ini walau terlambat dibandingkan dengan Negara-negara lain, tapi upaya yang terjadi wajib kita di apresiasi. Walau… ada satu hal yang masih mengganjal di benak saya. Foodcourt yang disediakan di lantai satu kadang membuat tidak nyaman penumpang. Waiters yang juga bertugas sebagai sales didepat outlet ka

dang agak memaksa ketika menawarkan dagangannya. Satu dua siih… nggak semuanya. Tapi cukup mengganggu.

Oke… kita berangkat menuju Jogja karena jam telah menunjukkan pukul 20.15. Di boarding pass tertera berangkat 20.45. Saya menuju ke peron dan mendapati kereta telah standby dan siap untuk berangkat. Hmmm… 30 menit sebelumnya telah siap. Ini bagus. Saya pun dengan tenang menuju gerbong saya. Eksekutif 3 tempat duduk nomor 1B. Duh… depan sendiri menatap besi. Tidak ada sandaran kakinya. Saya pun berfikir seandainya bukan saya di tempat duduk ini apakah orang lain juga mengeluhkan hal yang sama. 8 jam dengan space yang cukup sempit didepannya dan tanpa sandaran kaki. Tapi baiklah… lupakan. Karena saya sangat capek, sehingga tetap bisa istirahat.

Tibalah di stasiun Tugu. Sayapun penasaran ingin segera turun. Pengen ngliat apakah yang saya jumpai di Stasiun kebanggaan Jogja ini sama. Baiklah… mari satu-persatu kita telusuri.

Turunlah saya… tengok kanan kiri liat sign system ke atas… okelah sama! Bentuk, ukuran dan desainnya. Integrated enough. Tapi sayangnya… warna biru tua khas KAI kurang terpancar di semua lini neon boxnya. Warnanya terlalu tua shingga berkesan hitam. Sayang… eksekusinya seperti kurang di supervisi.

Saya kemudian melangkah ke arah musholla. Sambil nyiapkan diri karena adzan subuh baru saja berkumandang. Senang melihat tempat sampah yang bagus. Rapi, ada keterangan Recyclable dan yang satunya Not-Recyclable. Sebelumnya ke toilet. Cukup bersih walaupun tidak ditunggu petugas, mungkin karena masih subuh ya. Sign system nya juga bagus, sama dengan yang saya lihat di Gambir. Setelah wudlu dan masuk musholla saya dapati stiker yang masih tertempel sejak lama. “Demi keamanan, tempatkan tas dan barang-barang Anda di depan Anda Sholat”… naaah ini stiker mesti diganti. Karena sudah nggak integrated lagi dengan karakter yang dibangun PT. KAI saat ini. Ganti yang lebih baik dengan desain yang lebih informatif doong….

Di samping musholla kita lihat sedang dilakukan pembangunan… entahlah tampaknya akan dibuat semacam ruang tunggu yang lebih nyaman. Menuju pintu depan karena saya penasaran. Ooooh… sekarang sudah tidak bisa lagi penjemput melewati pintu depan. Pintu depan hanya untuk mengantarkan calon penumpang. Naaah… ada yang kurang beres ketika kita melihat ke atas. Neon Box yang berisi penunjuk arah & informasi tempat nampak terkonden desainnya. Ini yang mengganjal di mata. Nampak tidak proporsional dan gepeng. Sayang! Sekali lagi, supervisi kurang dilakukan secara detil. Mestinya pihak PT. KAI peka dan meminta vendor untuk mengganti.

Demikian ya sedikit ulasan mengenai branding kali ini. Branding tidak selalu identik dengan visual dan segala sesuatu yang nampak. Branding adalah tekad yang kuat untuk selalu berbenah. Branding yang baik itu seperti aktivitas secara terus menerus untuk melakukan upaya dengan sungguh-sungguh. Melakukan koreksi, evaluasi, dan pembenahan di setiap lini. Tidak ada yang lebih indah hidup ini kecuali selalu berproses untuk menjadikan kehidupan kita dan lingkungan kita menjadi lebih baik dan keren. [ ]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>