Advertising, Branding, Review
BRANDING BLUNDER

750xauto-klarifikasi-sari-roti-terkait-roti-gratis-di-aksi-212-ini-bikin-heboh-161206y

Pasca aksi super damai tanggal 2 Desember 2016 yang dilaksanakan di seputaran Monumen Nasional (Monas) atas reaksi umat muslim terhadap ucapan Ahok (Basuki Cahya Purnama, Gubernur DKI) saat pidato di kepulauan seribu, sebuah brand yang bernama “Sari Roti” menyampaikan surat terbuka yang di publish via online.

Berikut kalimatnya;
Sari Roti, Rotinya Indonesia (berupa logo brand & tagline)
Sehubungan dengan beredarnya informasi mengenai adanya pembagian produk Sari Roti secara gratis oleh penjual roti keliling (hawker tricycle) pada Aksi Super Damai 212, dengan ini kami sampaikan bahwa:
1. PT. Nippon Indosari Corpindo Tbk. Selaku produsen produk Sari Roti memberikan apresiasi sebesar-besarnya atas terlaksananya Aksi Super Damai 212 yang berjalan dengan dengan lancar dan tertib pada tanggal 2 Desember 2016
2. PT. Nippon Indosari Corpindo Tbk. Senantiasa berkomitmen menjaga Nasionalisme, keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Bhinneka Tunggal Ika dengan senantiasa berusaha untuk menjadi perusahaan kebanggaan Indonesia.
3. Dengan tidak mengurangi apresiasi kami atas Aksi Super Damai kemaren, dengan ini kami sampaikan bahwa PT. Nippon Indosari Corpindo Tbk. Tidak terlibat dalam semua kegiatan politik. Kemunculan informasi mengenai pembagian produk Sari Roti secara gratis oleh penjual roti keliling (hawker tricycle), merupakan kejadian yang diluar kebijakan dan tanpa seijin PT Nippon Indosari Corpindo Tbk.

Sehubungan dengan hal tersebut diatas, dengan ini PT Nippon Indosari Corpindo Tbk. Menyampaikan bahwa:
– Produk Sari Roti tersebut adalah produk yang dibeli oleh salah seorang Konsumen melalui salah satu Agen yang berlokasi di Jakarta.
– Pihak Pembeli meminta agar produk tersebut dapat diantarkan ke area pintu masuk Monas dan di pasangkan tulisan “gratis” tanpa pengetahuan dan perijinan dari pihak PT Nippon Indosari Corpindo Tbk.

Demikian informasi ini kami sampaikan agar tidak terjadi kesalahpahaman diberbagai pihak PT Nippon Indosari Corpindo Tbk. Berkomitmen untuk selalu menjaga Nasionalisme, keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Bhinneka Tunggal Ika, serta tidak terlibat dalam semua aktivitas kegiatan politik.

sari roti pengumuman

Saya tidak akan membahas aspek politiknya ya. Dari apa yang disampaikan dalam surat terbuka tersebut, terlihat jelas bahwa humas perusahaan sepertinya kurang hati-hati dalam berko

munikasi kepada konsumen. Karena faktanya aksi bagi gratis roti pada tanggal 2 Desember itu dari beberapa pengakuan beberapa teman yang hadir dan melihat langsung aksi bagi gratis tersebut, sebelumnya ada donatur yang membeli seluruh isi gerobak dan kemudian meminta penjual untuk membagikan gratis kepada peserta aksi. Jadi, tentu penjual tetap menyetorkan hasil jualannya kepada pihak distributor Sari Roti. Tidak ada yang dirugikan sama sekali kan? Malah akan mendapatkan image positif secara gratis dan terbukti demikian sebelum surat terbukan itu di publikasikan. Toh… banyak produk-produk lain yang saya yakin tidak semua juga mendukung aksi 212 namun karena produknya dibeli dengan aqad jual beli yang haq, maka tidak jadi soal akan dikonsumsi untuk siapa dengan tujuan apa.

Maka tindakan untuk menyampaikan surat terbuka seperti diatas, menurut saya tindakan yang tidak perlu. Bahasa yang digunakan sangat rentan terhadap aktivitas branding yang menurut saya selama ini sudah berjalan baik. Isi surat juga seolah-olah ingin menyampaikan bahwa brand tidak mendukung aksi damai dan menuduh aksi 212 tidak menjaga keutuhan NKRI.
Dalam kalimat lain misalnya…
“Pihak Pembeli meminta agar produk tersebut dapat diantarkan ke area pintu masuk Monas dan di pasangkan tulisan “gratis” tanpa pengetahuan dan perijinan dari pihak PT Nippon Indosari Corpindo Tbk.
Mana ada seseorang membeli produknya kemudian diberikan gratis kepada orang lain dengan tujuan sedekah kemudian harus lapor kepada produsen produk yang sudah dibeli. Kan menjadi hak pembeli rotinya mau untuk apa. Ya kan?

So… sehingga surat terbuka Ini tidak perlu disampaikan. Karena memang brand tidak ada hubungannya dengan aksi. Ini sama juga dengan pembagian gratis berbagai merek air mineral, minuman kemasan, dan brand brand lain yang tentu saja diborong oleh beberapa pihak untuk melakukan sumbangan masal kepada peserta aksi.

Menurut saya ini adalah ke”GeEr” an sebuah brand yang justru akan berdampak negatif kedepan. Hari ini Senin 2 Januari 2017 secara kebetulan saya melihat dan mendengar berita dari Kompas TV. Dalam pemberitaan di acara berita rutin bahwa …
“Sari Roti tidak mendapatkan imbas apapun dari pernyataan terbuka pasca aksi bela Islam 212”. Dalam tayangan tersebut diperlihatkan ibu-ibu berkerudung sedang memilih Sari Roti dan secara bergantian pembeli lainnya. Saya tidak tahu si ibu acting atau betulan sedang beli Sari Roti kemudian di shooting. Ah… barangkali orang-orang media tentu lebih tahu. Pertanyaannya… mengapa juga membuat berita seperti itu? Kalau tidak ada imbas apapun dalam penjualan. Apalagi data yang disampaikan reporter kurang lebih begini …
“Di beberapa Toko Indomaret dari laporan penjualannya roti tawar Sari Roti tetap dia anggka 12 bungkus perhari. Ini membuktikan bahwa Sari Roti tetap diminati sebagian masyarakat”
Kira kira begitu isi beritanya. Bahasa yang digunakan adalah sugesti kepada konsumen agar tetap terus mengkonsumsi Sari Roti.

Yuuuk mari… kita bahas satu-persatu:
1. Perlu disadari bahwa muslim di Indonesia masih mayoritas. Pernyataan terbuka yang disebarkan Sari Roti bagi sebuah brand sangatlah berbahaya. Dampaknya panjang… brand tersebut akan bersusah payah untuk meyakinkan kembali kepada konsumen layaknya masa awal-awal melakukan aktivitas branding.
2. Brand sebaiknya melakukan penelitian lebih jeli & lebih detil lagi sebelum mengeluarkan pernyataan apapun. Sangat dipahami bahwa isu agama menjadi sangat riskan. Apalagi perusahaan yang ingin ‘netral’ dalam berbisnis. Tidak ingin disangkut pautkan dengan pembelaan terhadap salah satu agama tertentu. Namun sekali lagi mesti teliti.
3. Alangkah indahnya kalau brand tetap ‘diam’ di negeri yang plural ini. Selama terjadi jual beli yang sah, produknyapun halal, maka brand tidak perlu ‘panas’ dengan berita-berita dari internet. Karena yang terjadi di lapangan yang sesungguhnya memang tidak ada hubungannya dengan brand tersebut. Ingat, negeri kita ini mayoritas muslim. Tentu sebagian besar yang mengkonsumsi segala merek makanan dan minuman juga muslim.
4. Kadang ‘diam’ itu penting dilakukan oleh sebuah brand sambil melihat perkembangan yang terjadi. Salah bahasa dalam menyampaikan pernyataan (apalagi dengan surat resmi) akan berdampak kurang baik bagi brand. Memperbaiki yang sudah terjadi tentu membutuhkan effort yang lebih tinggi dengan upaya-upaya yang lebih kreatif lagi. Contoh misalnya … kita bisa memaafkan seorang narapidana yang baru saja keluar dari penjara. Tapi masyarakat juga butuh waktu kan? Untuk melihat perkembangan sang mantan napi… apakah dia benar-benar sudah berubah sehingga hidupnya bisa memberikan manfaat ditengah-tengah masyarakat. Memang analogi mantan napi mungkin terlalu berlebihan. Namun bolehlah untuk sekedar contoh. Betapa sulitnya sebuah brand diterima konsumen untuk sekedar mendapatkan pernyataan bahwa “brand ini positif dan manfaat”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>