Branding, Inspiration
Belajar Image Branding dari Tukang Parkir

brand

Jangan ngeres dulu pikirannya ya. Ini bukan cerita tukang pijit.

Begini ceritanya.
Selasa kemaren sore ketika balik dari Magelang menuju Jogja mampir ke warung Es Teller langganan saya. Sebetulnya warung itu bukan warung serba es atau sejenisnya. Lebih tepatnya warung makan khas makanan solo seperti timlo, bestik solo, atau bakso khas Solo. Tapi ada menu lain yang selalu membawa saya balik lagi ke warung itu … yaitu es teller nya… ngangeni banget. Naaah singkat cerita saya mampir untuk beli 4 bungkus es teller untuk saya bawa ke rapat di rumahnya mas Saptuari (bosnya Kedai Digital, dll, penulis buku mega best seller “Mulai dari titik Nol”) . Sambil nunggu pesanan jadi, karena cuaca cukup dingin disebabkan hujan maka saya pesan bakso panas untuk sekedar menghangatkan badan. Menghangatkan badan apa laper ya… hmmmm… saya lupa… hehehehe.

Tanpa pernah ngecek dompet berapa uang tersisa. Saya pun ‘pede’ ketika pesanan sudah siap, saya datang ke kasir dan… saya buka dompet, truusss… zaaap… ternyata uangnya kurang. Kurang 10.000 rupiah. Duh… tengak tengok…. “Mbak uangnya kurang ya… bisa nggesek debet nggak? Saya nanya ke mbak kasir…
jawabnya “Nggak bisa pak, maaf… hanya terima cash aja” jawabnya. Maklum lah saya… namanya juga warung kecil.
“Okedeh saya cari ATM dulu ya”
“Silahkan pak…”

Saya liat kalau keluar warung jalan kekiri 100 meter ada swalayan I*******t. Tapi kok nggak ada ATM nya. Biasanya tuh… ada. Yaudah trus saya balik lagi ke Warung lagi… lumayan olahraga. Trus nanya ke orang-orang warung… katanya siih arah balik ada ATM di depan Restoran P*******u. Saya liat jalan… trus saya liat jalurnya… cukup jauh muternya karena ada marka jalan beton.
Hmmmm… agak menyulitkan kalau naik mobil. Nggak praktis blas. Naik mobil muternya bisa 2,5 kilometer, kalau naik motor mungkin hanya 300 meteran.

Mungkin karena saya clingak clinguk bingung gitu… sang bapak-bapak tukang parkir ngliat saya dan sepertinya merasa iba hehehehe.
“Udah dek… saya antar aja naik motor… dari pada muter jauh… kalau naik mobil.”
Tanpa berpikir panjang saya iyakan tawaran menarik si bapak parkir. Sambil bonceng, di perjalanan obrolan akrab pun terjadi. Selain baik hatinya bapak parkir ini ramah dan sederhana. Bahasa jawanya tu “enthengan” atau ringan tangan… seolah bantu orang yang kesulitan itu hal yang sudah biasa dia lakukan. Dalam waktu yang sebentar saja bisa dekat dengan seseorang. Dari masalah anak sampai keluarga kita pun obrolkan di jalan.

Setelah saya ambil uang di ATM dan saya bayarkan ke kasir, bisa ditebak kan? Saya kasih bapak parkir tentu tidak dua ribu rupiah seperti biasanya. Dan… saya berikan berkali-kali lipat lebih banyak dari biasanya. Sekedar sebagai bentuk ucapan terima kasih. Bukan untuk membayar kebaikannya, karena nggak mungkin membayar kebaikannya dengan rupiah sebanyak apapun. Biar Allah sajalah yang menggantinya dengan balasan yang lebih baik.
Kamipun berpisah, dengan tersenyum lebar seperti menyiratkan dalam hati … “kapan-kapan ketemu lagi ya pak… maaf lupa nanya… nama bapak siapa?….”

Nah… membaca cerita diatas bagi saya , apa yang dilakukan bapak Parkir adalah aktivitas branding. Kesimpulan apa saja yang bisa dipetik? Berikut poin-poin nya.

1. Branding itu harus “helpful”.
Saya yakin bapak parkir (BP) tulus & jujur tidak mengharapkan apapun kecuali ridlo Allah saja. Buat apa nolong kalau selalu mengharap balasan materi. Karena kalau seperti itu namanya aqad ijaroh atau jual beli hehehe…. Lanjuuut ya… Karena kebaikan yang dilakukan BP itu suatu kebiasaan dilakukan/ habit, maka bisa dipastikan bagi masyarakat yang tinggal di lingkungan warung itu saya pastikan BP sudah dikenal sebagai orang yang suka menolong. Sehingga mudah saja kalau disayang banyak orang. Ringan dalam menolong pelanggan akan membawa naiknya image brand. Kalau ibaratnya sebuah produk, aktivitas yang dilakukan akan membawa image “ketulusan” dan menaikkan citra positif.

2. Branding itu menawarkan kemudahan
Apa yang dilakukan BP kalau melihat ada pelanggan kesulitan kemudian cuek dan mempersilahkan pelanggan menyelesaikan masalahnya tanpa diberikan solusi apapun. Pastilaaah… pelanggan tidak memiliki kesan apapun, malah akan selalu teringat bahwa seisi warung tidak peduli dengan kesulitan pelanggan. Walhasil pelanggan bisa jadi akan menceritakan kesulitannya ke orang lain, bisa berdampak viral apalagi di era saat ini upload foto di internet disertai komentar pengalaman buruk si pelanggan pasti pedih. Sangat menyakitkan. Ingat kan, isyue warung soto babi di Jl. Parangtritis. Dalam waktu singkat dagangannya tak berbekas.

3. Branding itu tidak hanya mengandalkan “nama”
Cerita panjang pengalaman saya diatas tidak satupun menyebutkan nama warungnya. Bahkan saya sampai sekarang lupa nama warungnya apa. Tapi setiap saya jalan dan melewati jalan Magelang, seringnya saya mampir. Makanannya ngangeni. Pelayanannya cepat, dan pastilaaah ada bapak Parkir yang “helpful”. So…. Logo bagus, penataan warung yang sangat modern dan mahal, standing banner, shopsign keren, atau apalah nama medianya … tidak satupun ada di warung itu. Apakah pemilik warung tidak sadar make up? Bisa jadi “ya”, bisa jadi “tidak”. Sering dengar kan warung-warung jadul yang menyajikan masakan tradisional. Mereka nggak punya logo yang bagus. Apalagi tempat yang cozy. Kadang tempatnya pelosok, nggak rapi, tidak dekat dengan pusat kota. Tapi dicari. Dan… antrenya … bikin ‘keder’.
Jadi, apakah logo, tampilan, packaging itu tidak penting? Yang penting attitude dalam service dan kualitas produk saja? Tentu dua-duanya penting. Namun alangkah indahya apabila aktivitas branding yang menyajikan tampilan visual yang ciammik itu disertai dengan attitude branding yang menyeluruh. Seperti yang dilakukan warung yang saya ceritakan diatas.

Gitu aja ya ceritanya… kapan-kapan disambung lagi. Masih banyak pelajaran dari kisah diatas. Tapi kapan-kapan aja ya lanjutinnya.

Trims.

Andika DJ
@andikakerenlah

 

image: my.whirlwindsteel.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>