Advertising, Branding, Uncategorized
Bahagia itu Tidak Sederhana

wajan hore2

Pernahkah kita dalam sehari saja selama hidup kita, lima meniiit saja, merenung… berhenti sejenak dari kebisingan kota dan kesibukan pekerjaan sehari-hari. Menatap langit malam, ditemani bintang-bintang….

Berevaluasi diri tentang kehidupan kita yang telah hidup 20, 25, 30, atau bahkan 40 tahun lamanya. Jika dipotong dengan masa kecil, taruhlah 15 tahun sampai bisa dikatakan dewasa (baligh–pen.). Karena masa kecil kita tidak dihitung dosa. Kalau usia kita sekarang 30 tahun, berarti kita hidup yang sesungguhnya sudah 15 tahun lamanya.Sudahkah kita mendapatkan kebahagiaan?

Pekerjaan kita yang menyita pikiran, waktu, tenaga, bela-belain meninggalkan keluarga di rumah, bahkan Sabtu-Minggu juga dihajar pekerjaan di kantor. Alasannya sama… deadline klien… nggak bisa ditunda. Kondisi bisnis sedang kurang baik, keluhan hampir merata di semua Creative Agency mulai dari agensi lokal sampai multinasional semuanya mengencangkan ikat pinggang. Menghindari pengeluaran-pengeluaran yang kurang penting. Tentu… tidak jamak juga siiih. Ada juga kok Agency yang masih aman dengan klien-klien besarnya. Walau… akan puyeng kepala mendekati hari-hari akhir kontrak hehehe… Mesti nyiapin pitching lagi dan lagi. Prospek ke klien lagi dan lagi.

So… kita nyiapin ide keren dan eksekusi yang dahsyat… dan singkat cerita (biar nggak nglantur) menang pitching bro!

Sekali lagi… apakah kita bahagia?

Apalagi ditambah dengan lika-liku kehidupan keluarga yang ‘pelik’ dan sulit di terjemahkan di dalam kamus apapun. Semua tampak selalu benar apabila menyesuaikan hati masing-masing. Perceraian, perselingkuhan, menjadi pembenar setiap ketidakcocokan atau perbedaan ‘visi’ atau apalah nama dan alasannya. Maka kebahagiaan itu menjadi semakin jauh. Lantas… apa yang dicari dalam hidup?

Yang menjadi trend untuk mengukur kemakmuran sebuah Negara sekarang tidak hanya GDP (Gross Domestic Product) atau penghasilan per-kapita per- tahun yang ada dalam sebuah negeri. Tetapi Index of Happines, index kebahagiaan yang sekarang ada surveinya. Saya nggak tahu, ukuran bahagia yang dimaksudkan  di dalamnya. Apakah infrastruktur taman kota yang banyak, sehingga warga bisa memanfaatkan waktunya bersama keluarga? Ataukah moda transportasi gratis atau kesehatan gratis yang diberikan untuk warganya? Karena pada kenyataannya, yang memiliki Index of Happiness yang tinggi bukan hanya negara-negara maju yang memiliki GDP tinggi. Karena saya juga kurang sepakat kalau mengukur kemakmuran sebuah negeri dilihat dari penjumlahan pendapatan seluruh rakyat selama setahun kemudian dibagi dengan jumlah penduduknya. Kan pendapatan orang per-orang berbeda-beda. Masak penghasilan konglomerat 550 juta per-bulan dijumlahkan dengan penghasilan petani yang penghasilannya 700 ribu? Invalid kan? Hasilnya besar tetapi bohong.

Kembali ke Index Kebahagiaan. Urutan pertama Negara dengan penduduk paling bahagia adalah Norwegia. Masih mengandalkan GDP yang cukup tinggi, jaminan sosial seperti pendidikan dan kesehatan yang lumayan dan alamnya yang dikenal masih asri, sama seperti di negara-negara Skandinavia lainnya.

Menyusul Denmark, Finlandia, Australia, Selandia Baru, Swedia, Canada, Swiss, Belanda dan Amerika. Agak mengejutkan memang, tapi itu kenyataan. Ukuran manusia selalu saja adalah materi, kenyamanan hidup dan jaminan sosial.

Namun, apakah materi bisa menghantarkan kebahagiaan?

Saya jadi ingat petuah Aa’ Gym panggilan akrab H. Gymnastiar di sebuah ceramah. Apakah arti kesuksesan itu? Sukses adalah sejauh mana hidup ini memberikan kebahagiaan bagi orang lain. Ingat, ada kalimat bagus dari nasehat Aa’, “memberikan kebahagiaan/ kesenangan bagi orang banyak”. So… hidup ini ternyata tidak sekedar ‘saya bahagia’ tetapi ‘kita bahagia’.

Mengapa kebahagiaan orang lain bisa membuat kita bahagia? Karena manusia itu egois dan individual, tidak suka berbagi dan merasa hidup ini berorientasi kepada dirinya sendiri. Semuanya untuk kesenangan pribadi. Kalau Tuhan tidak pernah mengingatkan, mungkin pemandangan hedonis individualistis benar-benar akan sangat nampak. Pun, di Indonesia… kota-kota besar sudah sangat ‘begitu’. Walau masih beruntung, kebiasaan kerja bakti, ronda, masih menghiasi kampung-kampung.

‘Berbagi’ barangkali menjadi kata unik yang bisa kita jadikan eksperimen. Kenyataannya budaya berbagi tidak hanya diajarkan di agama tertentu. Siapa pun yang melakukannya, tidak akan kemudian semakin susah hidupnya. Jadi teringat khutbah Jum’at siang tadi. Sudah diteliti bahwa orang yang melakukan kurban setiap tahunnya tidak akan menjadi lebih miskin.

Nah… bahagia ternyata tidak sederhana. Pasti butuh pengorbanan, dan keikhlasan. Sama persis ketika kita mencurahkan segala daya upaya untuk sesorang yang kita cintai. Pasti, apa pun dilakukan. Seperti kepada istri atau anak kita. Atau keluarga kita.

Selamat mencari kebahagiaan!

Andika Dwijatmiko
CEO Syafa’at Marcomm (Agency Partner Pinasthika 2013, 2014, 2015)
Award Director Pinasthika 2014
Kabid Pendidikan & Litbang P3i DIY

 

*)Dimuat dalam Katalog Pinasthika Creativestival 2015. Taman Budaya Yogyakarta 17-20 September 2015

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>