reflection
Hanya Amal yang Akan Menemani Kita

ending

Senin 31 Desember 2012 adalah hari yang tidak pernah saya lupa seumur hidup. Sore itu jam 17.00 saya ditelpon adek saya (Cirebon) yang masih liburan anak-anaknya di Magelang sambil jagain bapak. Kata adek saya, bapak mengeluh sakit perut. Mungkin karena asam lambungnya naik karena kangker yang diderita memang sudah menyebar ke seluruh tubuh. Keluhan seperti itu sebetulnya biasa… hampir empat bulan lamanya keluhan sakit perut hampir dua atau tiga hari sekali. Dan ketika ditawari untuk masuk rumah sakit biasanya tidak menolak. Kali ini aneh… bapak sudah tidak mau lagi masuk rumah sakit. Bliau terdiam dan tidak bicara. Jam 18.00 adek saya telpon lagi kali ini sambil menangis dengan ‘nada’ panik dengan backsound “Laailaaha ilallah… laa ilaahailallah” … mulailah perasaan ini berbeda. Adek saya meminta untuk segera pulang ke Magelang.

Di tengah derasnya hujan dan padatnya jalanan kendaraan melaju dengan kencang dan sayapun terbayang perjuangan ayahanda Chumaedi dalam menghadapi sakit kangkernya yang sudah diidapnya selama setahun. Perjuangan bliau yang pasrah dan tidak pernah lepas berdzikir. Selalu istighfar ketika kesakitan. Dan terakhir ketika hari ahadnya saya akan pamit pulang ke Jogja, dinihari sekitar jam 01.00 sampai dengan jam 02.30 bliau memperdengarkan murotal dari handphone kesayangannya. Suara murotal itu terasa aneh karena bapak mengeraskan volumenya… tidak seperti biasanya. Jam 03.00 bapak mematikannya. Dan saya lihat bliau duduk menghadap kiblat. Sholat tahajud… bliau istiqomah melakukan itu sebelum dan setelah berangkat haji di tahun 2010. Dan masuklah subuh… bliaupun sholat subuh dan tidak biasanya juga untuk tidak tidur setelahnya karena biasanya bapak tidak pernah bisa tidur malam karena sakit itu datangnya sering di malam hari. Mmmmh… tampaknya tahu kalau anak laki-lakinya akan pamit pulang ke Jogja. Bliau menahan kantuknya untuk sementara.

Di tengah-tengah perjalanan adek saya telpon lagi. Kali ini mengabarkan bahwa bapak telah berpulang ke Rahmatullah jam 18.45 wib. Innalillahi wainnailaihi raaji’uun. Dan sepertinya pamitan saya pagi itu adalah untuk selama-lamanya… pelukan terakhir dengan ayahanda sangat penuh makna tidak seperti biasanya. “Ingkang sabar nggih bak… istghfar mawon” (yang sabar ya pak… baca istighfar saja) saya ucapkan ke telinga bliau kata-kata itu seperti ritual rutin ketika pamitan kalau mau pulang. Tapi pamitan pagi itu terasa beda rasanya. Pelukan bapak terasa lebih kuat dari biasanya. Bliau mengelus punggung saya juga tidak seperti biasanya…. Bapak semoga Khusnul Khotimah… Ya Allah… ampunilah segala dosanya, terimalah segala amalnya. Amin.

Hidup didunia ini adalah rahasia Allah kapan akan berakhir. Kapan kita akan menghadap-Nya. Hanya amal sholeh saja yang akan kita bawa menjadi bekal kita. Tidak ada keluarga yang menemani, tidak ada materi, tidak ada jabatan, tidak bisa bawa rumah, tidak bisa bawa mobil, karena memang liang kuburnya nggak cukup kan? hehehehe  … semuanya kita tinggalkan…. Akhirnya, buat apa kita mati-matian mengejar sesuatu yang tidak bisa dibawa mati. Tidak hanya amal ibadah saja… tetapi amal ketika kita berbisnis/ bermuamalah, kadang kita selalu memisahkan amal ibadah dengan dunia akherat. Kalau ibadah ritual itu adalah akherat, sedangkan pekerjaan itu dunia! Maka wajar apabila banyak pelanggaran ketika berbisnis… makan riba, ‘kick back’ alias riswah dll. Seorang muslim kadang sudah merasa aman dan puas ketika sudah pernah melakukan ibadah haji, sudah sholat lima waktu, sudah zakat, sudah puasa… begitu ya…

Kehidupan dunia dan akherat itu bukan dikotomi. Tidak bisa dipisahkan. Semua amal didunia ini adalah bekal menuju kehidupan kekal di akherat. Tidak pilih-pilih. Semua amal. Termasuk dalam pekerjaan/ bisnis, ibadah, dan aktivitas muamalah lainnya. Maka sungguh rugi bagi kita apabila kita tidak meninggalkan jejak yang baik. Seperti firman Allah dalam QS Yasiin

“Sesungguhnya kami menghidupkan orang-orang mati dan kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh mahfuzh)” (QS. Yasiin: 12)

Meninggalkan jejak yang baik… amal sholeh sebaik-baiknya. Itu jauh lebih penting dari harta berapapun yang berhasil kita kumpulkan.

Hidup ini hanya sebentar. Termasuk kesenangan, maka… kesulitan, kesakitan dan apapun penderitaan yang kita alami didunia ini maka sifatnya sementara.

“Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari” (QS. An-Nazi’at: 46)

So… hidup yang sebentar ini mengapa kita sia-siakan dengan berbuat yang bertentangan dengan yang Allah tuntunkan? Hanya sebentar kok capek dan sulitnya…  karena kita akan beristirahat selamanya di syurga. Amin.

[ingin berkomunikasi dengan saya? follow twitter saya di @andikakerenlah]

One Response to Hanya Amal yang Akan Menemani Kita

  1. anna S Juliastuti says:

    Semoga istiqomah forever…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>